BULANG PA'BUNTINGANG
Memasuki bulan Sya’ban semua Orang tua yang memiliki
anak yang sudah menjelang dewasa baik laki-laki maupun perempuan sudah mengatur
rencana untuk mencarikan jodoh untuk anaknya
karena bulan ini dianggap sangat baik melakukan pernikahan bagi anaknya
karena akan memasuki bulan ramadhan. Banyak pula orang tua yang memanggil
anaknya dan menanyakan siapa teman dekat yang ingin dijadikannya sebagai
pendamping hidupnya nanti.
Berbeda dengan Orang tua Jamaluddin yang sudah
mengetahui kedekatan anaknya dengan anak dari kampung sebelah yang bernama
Fatimah anak dari pak Haris. Karena sering diajak Jamaluddin kerumahnya kalau
ada acara keluaraga.
Malam jumat, Jamaluddin duduk termenung di teras rumahnya,
mungkin dia memikirkan hubungannya dengan Fatimah yang sudah 5 tahun pacaran
tapi belum bisa melamarnya karena faktor ekonomi, ayahnya bekerja sebagai
petani sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga. Tiba-tiba Ayahnya memanggilnya
dia pun menemui ayahnya tapi kali panggilan ayahnya agak berbeda dari biasa ada
apa ini kenapa ayah sangat serius katanya dalam hati.
“Sini duduk di depan ayah ada yang ingin saya tanyakan kepadamu”
“Ada apa Ayah?” Balas Jamaluddin dengan penuh keraguan
“Bagaimana hubunganmu dengan Fatimah?”
“Baik ayah” jawab Jamaluddin. “kalua begitu minggu depan Ayah akan menyuruh
orang kerumahnya Fatimah untuk membicarakan hubungan kamu dengan Fatimah
kedepannya” melihat ibumu sudah sakit-sakitan, ayah khawatir nanti kalau
terlalu lama ibumu tidak bisa melihat kamu menikah.
“Betul itu nak apa yang dikatakan
ayahmu” kata ibu jamaluddin
“Terserah kita Ayah” jawab Jamaluddin.
Malam ini, Jamaluddin tidak bisa tidur memikirkan
perkataan ayahnya tadi karena dia mengetahui uang yang dikumpulkan selama ini
belum cukup untuk dipakai panai karena di Kampung ini, uang panai terlalu
tinggi, manalagi uang untuk beli kuda, beras. sewa elekton, dll. Tapi
Jamaluddin juga tidak bisa menolak apa yang dikatakan ayahnya karena dia sangat
mencintai Fatimah dan sudah lama dia ingin melamarnya.
Jamaluddin pergi menemui Jamilah di tempat biasa yaitu
taman bunga yang ada di dekat Kampungnya karena itu tempat yang sangat
bersejarahl buat jamaluddin dan jamilah, dimana di tempat ini mereka jadian. Untuk
memberitahukan Famatih tentang apa yang akan dilakuakan keluarganya, Tetapi jamaluddin sudah sampai duluan di
taman tetapi jamilah belum juga datang, kenapa ini jamilah belum juga datang,
apa yang terjadi padanya biasa dia yang duluan datang katanya dalam hati.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya muncul juga
motornya Fatimah memasuki pintu masuk taman dan langsung menyampari Jamaluddin yang
sudah lama menunggunya. Jamaluddin langsung menceritakan apa yang dikatakan
Ayahnya tadi malam,
“Fatimah Ayahku Ingin ke
Kerumahmu minggu depan untuk menceritakan tentang bagaimana hubungan kita nanti
(melamar)”
“Baguski itu karena kalau begini
teruski saya takut terlalu banyak dosa yang kita lakukan, tetapi dari mana kamu
mendapatkan uang karena sekarang belumpi musim panen jagung dan padi?”
“Itu juga yang saya tidak tahu Fatimah, ketika saya bertanya kepada
Kedua Orang Tuaku, meraka tidak mau menjawabnya, tetapi dugaanku meraka menjual
kebun.”
“hhhmm maaf yaa jamaluddin,ini bukan keinginanku kata Fatimah karena
merasa tidak enak kepada Jamaluddin.
“tidak usah minta maaf karena ini memang sudah menjadi budaya di Kampung
kita”
Jamaluddin dan Fatimah pun meninggalkan taman karena
sudah sore,takut famatimah nantidi marahi oleh Ayahnya tetapi jamaluddin tidak
mengantarnya pulang karena masih takut dilihat oleh Ayah Fatimah dan harus
berpisah dipertigaan dekat taman.
Akhirnya... Keluarga Jamaluddin memberanikan diri
untuk pergi ke rumah Fatiamah untuk boya baji’ (melamar), dan kedatangannya di
sambut baik oleh keluarga Fatimah, di kampung ini masyarakatnya sangat baik
kalau menerima tamu dan sangat memegang budaya yang di anutnya. Memasuki inti
pembicaraan yaitu uang yang harus di bawa
(uang panai) oleh keluarga jamaluddin, dan mengatakan bahwa kemampuannya
hanya 30 juta tetapi keluarga Fatimah
tidak mau kalau hanya seperti itu dia ingin lebih dari itu, yaitu 75 juta
karena Ayah Fatimah mengatakan dia malu kepada tetangga kalau seperti itu,
anakku kan cantik dan anak satu-satunya lagi. Katanya kepada keluarga
Jamaluddin. “oke pak, saya pulang dulu menceritakan kepada Ayah Jamaluddin, nanti saya balik lagi kesini” kata keluarga
Jamaluddin.
Keluarga jamaluddin langsung membicarakan apa yang
dikatakatan tadi oleh keluarga Fatimah bahwa dia tidak mau kalau hanya uang
yang dibawa hanya seperti itu, tetapi kata Ayah Jamaluddin “saya tidak sanggup
kalau ditambah lagi, katakan saja pada mereka besok bahwa kalau tidak mau yang
kita mau bawa, suruh tunggumi dulu sampai uang kita cukup tapi saya tidak tahu
dimana saya harus mengambil uang lagi.”
Keesokan harinya Keluarga Jamaluddin kembali ke rumah
Fatimah untuk kedua kalinya, tetapi hasilnya tetap sama, keluarga Fatimah mau
lagi kalau hanya itu uang panainya. Tetapi keluarga Jamaluddin menyampaikan
pesan ayah jamaluddin yang diakatakan
tadi malam, dan ayah Fatimah menjawab
saya tidak bias menunggu kalau ada yang datang saya akan terima dia. Akhirnya
pembicaraan pun selasai dan hasilnya tidak ada kepastian dan pulang membawa
kekecewaan.
Seminggu setelah
keluarga jamaluddin melamar
Fatimah, ada orang dari kota datang juga ke rumah Fatimah dan ingin melamar, dia adalah orang
kaya mempunyai sawah yang luas, ternak yang banyak dan keturunan beradab. Dan
keluarga Fatimah menerimanya tetapi Jamilah tidak mau menikah dengan lelaki itu
karena dia tidak mencintainya dan lebih memilih Jamaluddin dan dia mengatakan
kepada ayahnya “kalau ayah memaksakan
saya menikah dengan lelaki selain jamaluddin lebih baik saya mati saja”
kata Fatimah kepada ayahnya” “jangan kamu lakukan itu Fatimah, ayah hanya ingin
melihat kamu bahagia nanti dan kamu bias bahagia jika kamu menikah dengan Azis,
lelaki yang ingin dinikahkan oleh ayahnya” “tetapi Fatimah tetap menolak menikah
dengan lelaki itu.”
Fatimah pernah berjanji kepada jamaluddin bahwa dia akan
menemaninya sampai ajal menjemputnya dan dia pun membuktiknnya. Akhirnya
Fatimah dan Jamaluddin memutuskan meninggalkan kampung halamannya, silariang (Nikah
sirih), dari kejadian ini keluarga Jamaluddin dan keluarga Fatimah putus
hubungan persaudaraan kerana merasa masing-masing merasa dipermalukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar